#GERAKSOPAN

"... masa depan Gereja dan bangsa kita tidak terletak pada gedung-gedung mewah yang kita bangun dengan menguras begitu banyak sumber daya, melainkan terletak pada anggota Gereja dan masyarakat yang memperoleh pendidikan yang memadai sehingga mereka menjadi pribadi-pribadi yang cerdas, humanis, memiliki kepedulian terhadap orang-orang kecil, dan pribadi-pribadi yang memiliki iman yang cerdas, mendalam, tangguh, dan misioner."

Rm. Ignatius L. Madya Utama, S.J.



APA ITU GERAKAN SOLIDARITAS 1.000 ORANG KATOLIK?

GERAKAN SOLIDARITAS 1.000 ORANG KATOLIK adalah sebuah gerakan iman untuk mendidik diri sendiri dan orang lain supaya menjadi “kaya di hadapan Allah” (bdk. Luk. 12:21) sehingga kita rela berbagi dari kekurangan kita seperti yang dilakukan oleh janda miskin seperti yang dituturkan dalam Kitab Suci (bdk. Luk. 21:2-4) supaya tidak ada satu orang pun yang mengalami kekurangan (bdk. Kis. 4:34).


Gerakan ini ditujukan untuk mendukung keberlangsungan dan meningkatkan mutu kegiatan belajar-mengajar di SD SANJAYA TRITIS, serta Sekolah Katolik-Sekolah Katolik lain yang melayani anak-anak miskin.


Gerakan ini pertama-tama ditujukan kepada seluruh orang Katolik (Rama Vikep, pastor, biarawan-biarawati, dan semua anggota Gereja “awam”) yang berada di wilayah Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta. Gerakan ini diharapkan dapat meluas ke seluruh Keuskupan Agung Semarang, dan bahkan ke semua Keuskupan di seluruh Indonesia.


BAGAIMANA GERAKAN SOLIDARITAS 1.000 ORANG KATOLIK INI TERBENTUK?


Pada 14 April 2017 malam ketika Rm. Madya Utama, S.J. baru saja pulang dari memimpin ibadat Jum’at Agung di kapel Sejati Dukuh, paroki Santo Petrus dan Paulus, Klepu, Yogyakarta, ia membuka handphone-nya. Salah satu pesan yang ia terima adalah:

SELAMAT MENYAMBUT JUMAT AGUNG

  • Jika ada 1000 orang yang menyayangi Anda, saya ada di dalamnya …
  • Jika ada 100 orang yang mengasihi Anda, saya termasuk di dalamnya…
  • Jika ada 10 orang yang mempedulikan Anda, saya pasti di dalamnya…
  • Tapi…jika ada 1 orang yang mau rela mati untuk menanggung semua dosa Anda dan dosa saya, itu bukan saya….!!!!!!!
  • Itu cuma Yesus Kristus. Dia rela mati untuk Anda dan juga saya.
  • Selamat menyambut Jumat Agung.

Rama Madya menjawab tayangan tersebut dengan menulis: “Saya membutuhkan 1.000 orang Katolik, yang mau menyisihkan uang 500 rupiah setiap hari untuk menyelamatkan SD Sanjaya Tritis. Apakah Anda mau masuk di dalamnya?...juga orang lain? (Sekolah itu butuh 15 juta per bulan untuk penggajian guru).”

Dalam waktu 5 menit sudah ada 3 orang yang menanggapi tayangannya secara positif; bahkan salah seorang dari mereka ada yang bertanya tentang teknik pelaksanaannya. Terhadap pertanyaan itu, Rama Madya menjawab: “Tekniknya: Anda membuat tempat untuk menabung, entah apapun bahan dan bentuknya. Setiap malam sebelum tidur Anda membawa uang 500 rupiah. Sebelum memasukannya ke dalam tempat tabungan, berdoalah untuk memper-sembahkan uang tersebut kepada Tuhan guna menolong anak-anak yang belajar di SD Sanjaya Tritis. Tentang tempat dan cara pengumpulannya nanti akan saya bicarakan dengan Dewan Pelaksana Pendidikan (DPP) SD Sanjaya Tritis.”
Lebih lanjut, Rama Madya mengatakan: “Bila gerakan solidaritas semacam ini bisa meluas, kita dapat membantu sekolah-sekolah Katolik miskin lainnya agar mereka dapat melanjutkan pelayanan mereka, yakni menolong Yesus yang hadir dalam diri anak-anak miskin (bdk. Mat. 25:31-46).”

Dalam waktu 30 menit sudah ada 10 orang yang menanggapi imbauan Rama Madya tersebut secara positif. Mereka bersedia ikut dalam gerakan solidaritas tersebut; bahkan ada yang mengajak anggota keluarganya, dan warga Lingkungan tempat mereka tinggal. Ada pula yang menyebarkan undangan tersebut kepada kelompok-kelompok lain; dan memang ditanggapi secara sangat positif.

Rama Madya melakukan hal tersebut karena akhir-akhir ini ia merasa sangat gundah dengan semakin banyaknya sekolah Katolik di Keuskupan Agung Semarang—khususnya yang melayani orang-orang miskin—yang terancam untuk ditutup. Salah satu alasannya adalah ketidakmampuan sekolah-sekolah tersebut untuk menutup biaya operasionalnya, sehingga kualitas guru, proses belajar-mengajar, dan penyediaan sarana serta prasarana pendidikan tidak dapat ditingkatkan oleh sekolah-sekolah tersebut. Akibatnya, sekolah-sekolah tersebut tidak lagi diminati oleh para calon murid, sehingga tidak dapat mengumpulkan dana yang mencukupi guna menyelenggarakan sekolah dengan baik. Karena jumlah murid tidak memenuhi persyaratan yang dituntut oleh Dinas Pendidikan, sekolah-sekolah tersebut juga tidak dapat menerima Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah. “Nasib” akhir dari sekolah-sekolah tersebut sudah sangat jelas: ditutup atau mati dengan sendirinya.


Akankah kita, sebagai anggota Gereja, membiarkan hal ini terus berlangsung sehingga lama-kelamaan tidak ada lagi sekolah Katolik yang melayani orang-orang miskin? Akankah Gereja, kita semua, berpangku tangan dan membiarkan sekolah-sekolah tersebut mati? Adakah 1.000 orang Katolik di Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta yang bersedia menjadi bagian dari gerakan solidaritas ini?

MENGAPA KITA MENJALANKAN GERAKAN SOLIDARITAS 1.000 ORANG KATOLIK?


Gereja meyakini bahwa mendapatkan pendidikan merupakan hak asasi manusia yang tidak dapat diganggu gugat. Karenanya, Konsili Vatikan II meminta kepada para pemimpin bangsa-bangsa atau orang-orang yang memiliki kewenangan di bidang pendidikan untuk memastikan agar hak asasi atas pendidikan ini tidak terabaikan. Selanjutnya, Konsili Vatikan II menganjurkan kepada seluruh anggota Gereja untuk membantu seluruh bidang pendidikan dengan kemurahan hati agar manfaat pendidikan dapat dengan cepat meluas ke seluruh dunia dan dapat terjangkau oleh semua orang (GE 1).

Nyatanya, begitu banyak sekolah Katolik, yang melayani anak-anak miskin, semakin terancam ditutup karena tidak dapat menanggung biaya operasionalnya. Salah satunya adalah SD Sanjaya Tritis, yang setiap bulannya mengalami defisit paling sedikit Rp 15.000.000. Sebagai orang Katolik tentunya kita tidak dapat membiarkan hal itu terus terjadi.

Mempertimbangkan itu semua dan memperhatikan sabda Yesus bahwa menolong orang miskin berarti menolong Dia (bdk. Mat. 25:31-46), perlulah kita melaksanakan Gerakan ini.